Showing posts with label Friends. Show all posts
Showing posts with label Friends. Show all posts

Tuesday, December 7, 2010

Eve, Even Now

Namanya Eve dan gw mengenal dia dari sebuah forum international di mana gw sering ngoceh, yang kemudian berlanjut ke MSN chat sekitar 2 tahun yang lalu. Kira-kira di minggu yang sama waktu gw putus...

Dia itu orang Kanada. 18 tahun. Wajahnya putih pucet hampir kayak vampir, tapi tanpa make up banci seperti si robert twilite itu. Dia cantik, tapi juga terlihat rapuh. Mungkin karena dia udah biasa sakit-sakitan dari kecil.

Waktu itu kehadiran Eve bisa bikin gw sedikit lupa sama tragedi hidup gw. Komputer dekstop yang wafat dan... err... gw yang diputusin. Dia pinter luar biasa, ngebacotnya jago, sok tuir dan tukang ngayal. Sayangnya, dia itu home schooling dan jg sakit-sakitan sehingga Eve ga bisa keluar ke mana-mana. Apalagi, kenyataan yang paling menghalangi dia punya banyak temen... she's a devil worshiper.

Iya, doi nyembah Lucifer.

Ini serius. Satu keluarga nyembah Lucifer semua. Bokap, nyokap, teteh, aa, sama mamang-mamang yang motong rumput. Mereka nyembah si God's arch-enemy.

Untungnya, karena gw emang ga terlalu peduli dengan semua itu, akhirnya gw pun bisa jadi salah satu dari sedikit temennya. Sangat beruntung...


Eve says:
it would certainly seem so from a third party perspective but i' much more interested in other things
Ben says:
like what?
Eve says:
mm, i'm not sure
Eve says:
truth be told i'm sort of on a quest to find out what i want to do with my life
Ben says:
likewise.
Ben says:
its kinda sad really. most of my friends start to get married and stuff
Ben says:
and I'm still...well.. me
Eve says:
mm, you still have time, you might not have the luxury of waiting 30 to 40 years to find a mate but i'm sure everything will happen in time
Ben says:
hahaha.. u know. I'm a little bit bored about everything in the world... my life seems so... ordinary.
Eve says:
have you watch adaptation?
Ben says:
huh?
Eve says:
it's a movie. you should look for it. try amazone. maybe it would somehow change your perspective on world hemisphere
Ben says:
okay. I'll torrent it later

Itu 2 tahun yang lalu. Dan seminggu yang lalu, gw dapet kabar kalo dia baru meninggal. Gara blackberry sialan ini, gw jadi jarang buka email dari web. Dan email dari Erica, kakaknya Eve masuk ke dalam spam folder email gw.

Leukimia katanya.

Hahaha, hidup itu aneh ya. Di negara di mana gw tinggal, agama, kepercayaan, ideologi yang berbeda pasti dihajar habis-habisan. Padahal, sebagian besar dari mereka adalah orang baik. Orang baik yang cuma sekedar berbeda. Orang baik yang mungkin bisa ngerubah hidup lo.

Hey Eve, look at me. Even after two years, I'm still that guy. The one that doesn't fuckin care about differences in people, but still dying to make a difference...

So, can I please still be your friend?

Lanjut baca......

Tuesday, October 6, 2009

Andai...

Kadang gw suka mikir, mungkin hidup gw bakalan beda banget andai gw terlahir jadi orang kaya. Maksud gw, bener-bener kaya abis-abisan. Bukan tajir model sobat-sobat gw, yang ngakunya kaya, tapi kalo abis solat Jumat, malah sibuk nuker sendal swallow warisan bokapnya sama sepatu Adidas nganggur kepunyaan orang.

Coba kita bandingkan sejenak. Sewaktu gw nulis blog ini, gw baru aja abis baca blog seseorang. Gw ga perlu sebut lah namanya di sini, tapi yang pasti kalo ngeliat dari blognya, ni cewek pastilah orang kaya. Belanja-belanje seharian, putu-putu narsis di samping sebuah mobil mewah dan namu ke rumah sahabatnya yang nyajiin dia cocktail dingin nan elegan.

Hmm... terakhir gw kali ke rumah Didit, minuman yang disajikan adalah setengah segelas santan dingin. Elegan abis...

Mungkin andai gw terlahir sebagai orang kaya, gw bakalan masih ngeband seperti dulu. Para produser busuk berselera pasaran itu ga bakalan gampang aja ngasih janji-janji palsu sama gw. Kalopun kepepet, gw masih punya harapan untuk bisa memproduksi album gw sendiri. Dan terlebih lagi, temen gw Jadul ga bakalan merelakan keperawanan gitar Ibaneznya dinodai pihak pegadaian.

*sigh*

Tapi, tanpa bermaksud untuk menghakimi. Gitar Ibaneznya Jadul dari dulu emang udah rada binal. Ga keitung berapa banyak manusia yang menggrepe-grepe badannya, tanpa pernah sekalipun dia menolak. Dia jenis gitar yang suka mempertontonkan kemolekan tubuhnya tanpa mempedulikan norma-norma agama.

Dasar nakal!

Oke... setelah gw pikir-pikir lagi... Dul, gitar lo mesum abis! Bagus dah sekarang dia udah dikawinin sama orang pegadaian. Mendingan pisah dari sekarang daripada selingkuh belakangan. Lagipula lo kan sekarang maenan drum. Lo suka sama yang gemuk-gemuk gitu. Udahlah, lupakan masa lalumu. Mari kita songsong hari esok yang lebih baik!! Demi mencerdaskan bangsa dan melancarkan jalan darah!!!

*berhenti sejenak untuk meneguk segelas santan dingin*

Kembali lagi kepada topik kita tentang orang kaya.

Andai gw terlahir jadi orang kaya mungkin gw bakalan lebih terpelajar. Gw denger, orang kaya dari kecil udah dikasi buku yang tebel-tebel sama orang tuanya, disuruh belajar dengan giat supaya bisa sukses dan meneruskan dinasti yang dibangun kedua orang tuanya.

Sementara orang Eskimo waktu kecil udah dikasiin balok es, dilatih untuk bikin Iglo. Orang Cina dari kecil udah dikasi pedang dan disuruh belajar silat. Orang Medan kayak gw malah dikasiin gitar, disuruh belajar lagu Butet...

Dasar nasib... nasib...

Ahhh... gw pengen banget jadi kaya. Mungkin hidup gw bakalan beda banget. Mungkin hidup gw bakalan lebih menyenangkan.

Mungkin...

Setelah gw merenung baik-baik (dan bebas dari pengaruh dipidi Miyabi), gw sadar kalo gw terlahir jadi orang kaya, mungkin gw ga bakalan nulis di sini. Gw ga bakalan pernah berusaha gila-gilaan untuk terus kreatif dalam menciptakan sesuatu. Gw ga bakalan super duper sarap kalo berpikir.

Dan yang paling menakutkan... gw takut kalo gw ga bakalan jadi orang yang original. Jadi orang membosankan... Jujur, di dunia ini cuma satu yang gw takutkan.

*berpikir sebentar*

Oh oke, cuma dua yang gw takutkan. Satu, berubah menjadi orang yang membosankan dan dua, bulu dada Didit yang beraura mistis itu.

Yang pertama sepertinya berhasil gw hindari dengan sukses. Yang kedua, gw cuma bisa berdoa agar semoga teman gw itu diberi pencerahan oleh Yang Kuasa...

Atau setidaknya ceweknya punya keberanian untuk membeli pisau cukur ekstra tajam dengan combo dua mata pisau yang bergerak secara dinamis dalam membabat rambut-rambut pengundang bencana tersebut.

*sigh*

But you know what? Gw cukup seneng koq untuk terlahir sebagai seorang Ben. Walau gw ga kaya dan ga tajir. Walau gw harus berjuang ekstra keras untuk bisa ngedapetin apa yang gw mau. Walaupun gw terkadang harus merelakan sepatu gw berganti menjadi sepotong sendal swallow butut yang baunya bisa dikategorikan sebagai senjata biokimia massal. Karena gw punya temen kayak lo semua. Temen yang sekali temenan, tetep stay jadi temen gw.

Bahkan setelah bertahun-tahun... Moga-moga seumur hidup...

So, met ulang taun Dit! Lo minta hadiah tulisan sama gw kan, bro? Nih, gw kasi! Gw ngecenginnya di sini cuma dikit koq hahaha...

Have a great birthday my friend :)

And cheers to you all.

Lanjut baca......

Friday, September 25, 2009

Remot

Sebagai seorang teman yang baik, gw selalu berusaha membantu Didit ketika ia sedang membutuhkan. Seperti ketika Didit menanyakan ke gw, hal apa yang akan membuatnya tampil lebih keren.

Sambil berpikir dengan keras, gw merhatiin tampang Didit yang lebih menyerupai burung hantu daripada orang keren. Hmm... jelas ini membutuhkan kejeniusan, gw menimbang dengan bijak.

Beberapa saat kemudian...

"Ben lo yakin bawa-bawa remote tivi ke mall akan membuat gw lebih keren?" tanya Didit dengan penuh keraguan.
"Yakiiiin!"
"Oke kalo gitu," kata Didit sambil nyelipin remot tipi ke balik celananya.
Dengan tonjolan yang menyembul aneh, Didit tampak seperti seorang pemeran film orang dewasa. Ini benar-benar keren.

***

Sebagai seorang teman yang baik, seperti yang pernah gw katakan sebelumnya, gw selalu berusaha membantu Didit ketika ia sedang membutuhkan. Selain tugas utama tadi, gw juga harus selalu mengingatkan Didit untuk selalu berbuat kebajikan dan menghindari yang tidak benar.

Ini bukan tugas yang mudah, apalagi karena tendensi Didit yang selalu berbuat sesuatu berdasarkan libido kelincinya. Didit selalu mau kenalan sama cewek cakep, Didit juga selalu pengen pacaran sama cewek cakep, dan terkadang, dari 10 cewek yang menolak, ada satu yang terpaksa mengiyakan.

Jadi ketika Didit mengenalkan gw kepada ceweknya yang baru, gw langsung merasa galau. Cewek barunya ini cantik. Lebih cantik daripada pacar-pacar Didit sebelumnya. Cewek itu tinggi, lebih tinggi daripada gw, seorang model, walau masih belum terlalu terkenal banget, dan jelas berIQ lebih tinggi daripada Didit.

Dan ketika gw beralih untuk memperhatikan Didit si burung hantu yang lusuh, gw langsung merasa. Ini tidak patut. Benar-benar tidak patut, pikir gw sambil geleng-geleng kepala.

"Cinta," kata cewek itu sambil nyalam gw.
Jantung gw berdegup.
"Namanya dia Cinta, Ben," kata Didit yang ga bisa berhenti nyengir.
"Oh, oke. Gw Ben."
"Dia cewek baru gw..." Didit berbisik pelan.
"Kita dua minggu yang lalu ketemu di mall. Waktu itu Didit ngajakin kenalan sambil bawa-bawa remot. Lucu banget deh," tutur Cinta sambil tersenyum.
Gw kaget. Dan bangga bersamaan akan kejeniusan gw. Tapi juga sedih karena malapetaka yang gw datangkan kepada gadis cantik ini. Semoga saja orangtuanya pro "Married By Traffic Accident" kata gw berharap dalam hati.

"Dit, lagi dimana lo? Hang out di tempat lo, yuk..." ajak gw waktu gw nelpon ke rumahnya.
"Kenapa Ben? Tunggu bentar dulu..."
Terdengar Didit cekikikan di ujung sana.
"Bentar Ben, Cinta lagi nilpun HP..."
Gw menunggu.
"Kenapa Ben, lo tadi ngomong apa?" seru Didit setelah 30 detik.
"Hang ou-.." baru mau ngomong, omongan gw udah terputus sama cekikikan Didit. Lagi-lagi Didit ngobrol sama Cinta di HP-nya.
"Ben, omongan lo penting ga? Kalo ga penting, nelponnya entaran aja..."
"Penting Dit..."
"Iya, tapi tunggu bentar..."
Didit kembali cekikikan. Gw pengen mencekik.
"INI PENTING BANGET DIT!" teriak gw tilpun.
"Iya...iya... gw dengerin," Didit memasang telinga.
"Gini Dit..."
BRAKKK!
Tut...tut...tut.. gw menutup telpon.

Sebulan berlalu, dan gw kesepian. Didit ga lagi punya waktu buat hang out sama gw. Sesuatu yang ga pernah terjadi karena cewek selalu jadi nomor dua buat dia. Apa dia bener-bener serius sama Cinta?

Gw teringat sama ketololan-ketololan yang kita udah kita lakuin. Ralat, ketololan yang Didit lakukan, sementara gw sang mastermind berada di belakang. Lari slow motion di tempat umum, pergi berenang untuk ngeliatin ibu-ibu muda, ngegodain cewek cantik dengan rok mini pake kamera maenan (yg bikin gw dan Didit sempet mau digampar babon berambut cepak setinggi hampir 2 meter).

Gw jadi bener-bener rindu. Emang bener, lo baru tau kalo lo care sama sesuatu kalo sesuatu itu hilang. Biarpun sesuatu itu Didit...

Semoga temen gw yang tolol itu lagi seneng-seneng hari ini.

***

"Serius lo?"
"Iya, udah 2 minggu Didit ga ngambil dia," kata Jadul temen ngejam gw dan Didit.

Gw cuma ngeliatin Fender Jazz Bass yang berdiri kesepian di pojok kamar Jadul. Sebuah bass tampan yang lebih kece daripada majikannya itu, terlihat begitu merindukan merdunya musik.
"Gw denger-denger...cewek barunya ga suka Didit maen musik," tambah Jadul.

Gw termenung. Ini semua gara-gara remot keparat itu!

Oke...oke...sebagian emang gw yang salah. Gw suka rada-rada terlalu kreatif dalam memperlakuin temen gw. Gw tau. Setidaknya gw tau. Banyak orang yang ga pernah ngerasa kalo dia pernah salah. Tapi kreatif itu kan bagus. Cerdas malah. Walau masih sepupuan sama licik. Banyak orang berharap jadi kreatif, tapi karena ga bisa, akhirnya cuma jadi plagiarist.

Dan gw yang beruntung dikasi talenta koq malah nyesel. Enggak, enggak, gw ga bakalan nyesel. Gw malah menyalahkan Didit karena kelemahan akhlaknya itu. Masak karena sebiji cewek, dia langsung ngelupain mimpi-mimpinya begitu aja. Ga bakalan ada seorang cewek pun yang bisa membuat gw lupa akan mimpi-mimpi gw. Anak gw, mungkin bisa, saham Microsoft masih mungkin, sedangkan cewek...

Tapi Didit emang begitu. Kenapa dia bisa nurut aja ngelakuin kebodohan-kobodohan sama gw? Karena anak kalkun itu cuma mau orang lain ceria, dan dia akan ngelakuin apa aja untuk itu. Gw jadi sedikit maklum tapi juga tambah jengkel.

Sial...gw punya teman tulus yang tolol.

"Cinta?" gw menyapa.
Cewek itu melongok dari buku di tangannya dan tersenyum kepada gw. Gw sedikit menaikan alis. Damn, gw baru sadar kalo senyum Cinta ga terlihat tulus. Tapi hari ini gw ga ada tenaga untuk mikirin keganjilan cewek ini.

Dengan cuek gw ngambil bangku di depannya. Duduk di samping Cinta, ada seorang cewek berambut keriting yang lagi melirik gw dengan kesel. Merasa gw yang kurang keren telah mengganggu kedamaian hidupnya dan temannya yang terkenal. Gw mengabaikannya si keriting.

"Lo nyuruh Didit berhenti maen musik?" tanya gw tanpa basa basi.
"Kalo iya, kenapa?"
Dahi gw mengerut.
"Itu mimpinya Didit, tau. Lo ga bisa nyuruh dia untuk ngebuang mimpinya begitu aja. Itu bener-bener kejam," kata gw dengan penuh emosi.
"Kalo dia masih mau jadi mau pacar gw, dia harus berhenti jadi tukang ngamen. Itu syarat gw," selesai berbicara, Cinta kembali berkonsentrasi pada buku di tangannya. Mengacuhkan gw.
Pembicaraan itu telah selesai.

Cinta telah menentukan sikapnya. Ga ada lagi yang bisa gw lakukan di sini. Bahkan kalo gw tiba-tiba ngetebalikin meja trus ngegundulin rambut keriting temennya, ini gw tau cuma akan mengakibatkan gw dipakein straight jacket sama massa.

Gw berjalan pergi.

Cinta adalah salah seorang dari mereka. Mereka yang selalu hadir di sekitar lo. Mereka mungkin orangtua lo, tetangga lo, temen kuliah lo, bahkan temen deket lo. Seseorang yang selalu menjudge lo menurut standar kaku yang mereka miliki.

Mereka yang selalu penuh dengan ketakutan, dan selalu mencari rasa aman dalam gaji yang stabil dan hidup yang stagnan. Mereka yang bahkan tidak pernah berani mengkhayalkan kebahagiaan yang akan diraih ketika mereka meraih mimpi.

Mereka...

***

Sekarang gw bener-bener khawatir sama Didit. Yang bisa membedakan dia dan primata kere lainnya adalah kemampuan dia bermain bass. Kalo ini diambil dari dirinya, apa yang mencegah Didit untuk menjadi seorang bapak rumah tangga nanti?

Berkali-kali gw coba ngehubungin Didit tapi ga bisa. Dia seperti hilang ditelan bumi. Temen-temen kampusnya ga ada yang tau Didit kemana, selain gosip-gosip yang beredar, sekarang Didit punya majikan baru bernama Cinta!

Gw bener-bener harus melakukan sesuatu. Gw nyalain komputer, menjelajah dunia maya untuk mencari sesuatu untuk menjatuhkan Cinta. Ini bisa gw lakukan. Gw pernah melakukannya. Dengan sedikit bantuan dari Facebook dan pulsa GSM yang makin murah, gw bisa mencari informasi tentang apa aja.

Tapi yang namanya Didit emang ga bisa ditebak. Dia adalah sebuah anomali dalam klan homo sapiens kita. Missing link dari species manusia dan kera pantat belah tiga. Belum lagi riset gw mencari data untuk mengdiskreditkan Cinta kelar, dia udah nelpon gw.

"Ben, kita harus ketemuan!"
"Weiis...kemana aja lo, man?"
"Gw punya cewek baru!"
"Hah? Cewek baru? Cinta kemana?"
"Kita udah putus. Cinta ga bolehin gw maen musik, itu bikin gw jadi gila. Dan lagi... dadanya terlalu kecil..."
Dadanya terlalu kecil? Gw terdiam sejenak.
"Jadi maksud lo, kalo dia penyiksa orang tua, penghalang mimpi-mimpi lo, dan carrier penyakit sampar, bila dadanya besar, ga bakalan lo putusin?"
"Mungkin."
"....."
"Oh ya...cewek baru gw namanya, Rara. Dia juga model."
"Oke...biar gw tebak. Dia punya dada yang besar."
"Ah enggak...lebih baik lagi, Ben. Dia pengertian..."

Cewek baru Didit... pengertian... Dan di balik telpon itu gw tersenyum. Temen gw yang tolol akhirnya... tumbuh dewasa. Gw serasa Ibu Muslimah yang lagi ngelepas Ikal ke Jakarta, sambil melambai-lambaikan sapu tangan. Gw terharu.

"Selamet ya man, lo akhirnya bisa dapet cewek yang baik."
"Iya...baru 3 hari yang lalu gw ketemu dia di mall... dia lagi bawa-bawa remot AC gitu, Ben. Keren abieeeesss."
Remot AC? Jantung gw berdegup kencang. Oh sial, cewek itu gila dan plagiat...

note from Ben : salah satu cerpen gw. genre komedi, non fiksi. dan kalo ada yang ngebajak, yo wis lah. sebagai orang kreatif jangan pernah takut untuk dibajak. dibajak orang? nulis lagi lah, jangan kayak orang susah deh...

Lanjut baca......